Sabtu, 05 Oktober 2013

Tugas Softskill Psikologi Manajemen


 BIOGRAFI


Nama saya Nunik Parwati. Saya lahir pada tanggal 30 Juli 1993 tepatnya di kota Bogor. Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak saya pun juga seorang perempuan. Saya sangat merasa beruntung karena lahir dari Orang tua yang sangat amat menyayangi anak- anaknya dan sangat begitu perhatian kepada kedua anaknya. Berlanjut pada hobi saya ketika mempunyai banyak waktu luang yaitu menonton, terutama menonton drama atau film-film korea karena saya juga termasuk orang yang menggemari artis-artis korea tetapi dalam hal mengidolakkan artis korea tersebut saya bukan termasuk orang yang tergila-gila terhadap artis-artis korea.

Saat saya sedang memasuki Sekolah Dasar ketika itu berumur 5 tahun, alasan Orang tua saya memasukkan saya saat berumur 5 tahun adalah karena dirumah tidak ada yang menjaga saya karena Ayah dan Ibu saya sama-sama bekerja pada saat itu. Dan kebetulan Ibu saya adalah seorang Guru SD maka dari itu Ibu saya membawa saya untuk ikut-ikutan menjadi murid Sekolah Dasar Kelas di sebuah SD yang berada tidak jauh dari rumah saya yaitu SDN Loji 1. Karena dengan begitu Ibu saya tetap bisa memantau dan menjaga saya. Sebenarnya niat Ibu saya hanya menyuruh saya untuk ikut-ikutan belajar saja daripada saya tinggal dirumah sendirian karena Ibu saya pun tidak percaya memperkejakan orang untuk bantu-bantu atau menjaga saya dirumah sebab umur saya yang masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian dengan orang yang bukan keluarga. Walaupun saya ikut- ikutan masuk Sekolah Dasar ketika berumur 5 tahun. Namun saya benar-benar bersekolah di Sekolah Dasar ketika berumur 6 tahun saya benar-benar didaftarkan sebagai murid SDN Loji 1 tempat Ibu saya juga bekerja. Pernah suatu ketika Hari Kartini Ibu saya pun mengikutsertakan saya untuk ikut lomba karnaval didaerah rumah saya dan kebetulan saat saya di dandani memakai kebaya saya mendapat juara satu perasaan yang saya rasakan sangat senang.

Ketika duduk disekolah dasar saya pernah terkena penyakit bronchitis jadi saya harus selalu pergi kerumah sakit untuk control dan berobat jalan sampai bisa sembuh seperti sekarang ini. Awalnya saya tidak tahu kenapa bisa terkena penyakit itu. Dahulu saya senang bermain dengan kucing tetapi karena terkena penyakit bronchitis yang bila bernafas saya seperti bengek atau agak sulit sejak itu ibu saya melarang saya untuk bermain-main atau berdekatan dengan kucing karena bulu-bulu dari kucing tersebut juga dapat menyebarkan virus. Selain itu mungkin saya pun terpengaruh ibu saya yang takut ketika melihat kucing bukannya hanya takut untuk melihat tapi Ibu saya memang benar-benar tidak menyukai kucing karena mungkin Ibu saya mempunyai phobia sendiri terhadap kucing. Sejak saya dilarang untuk tidak berdekatan atau bermain dengan kucing saya pun sampai saat ini jadi merasa takut terhadap kucing. Ketakutan yang saya rasakan ini mungkin sedikit banyak dipengaruhi juga oleh perilaku Ibu saya saat melihat kucing yang otomatis membuat pemikiran saya pun menjadi sama seperti Ibu saya yang berpikir bahwa kucing itu menggelikan, menakutkan dan saya pun jadi tidak berani untuk memegang atau berdekatan dengan kucing.

            Seiring dengan berjalannya waktu penyakit bronchitis saya pun bisa sembuh karena saya menjalani pengobatan yang teratur dari dokter. Namun ketakutan saya terhadap kucing tetap ada saat saya sudah beranjak dewasa.

Prestasi saya disekolah dasar memang tidak terlalu bagus namun tetapi tidak buruk pula. Saat beranjak SD kelas 4 hingga kelas 6 saya mulai mendapatkan Ranking walaupun hanya masuk kedalam 10 besar tetapi sejak itu prestasi saya mulai meningkat dan akhirnya saat lulus saya bersyukur bisa mendapatkan SMP Negeri. Sekolah Menengah Pertama di Bogor mungkin sangat berbeda dengan kota-kota lain, Kota Jakarta misalnya yang amat banyak. Di Bogor itu sendiri SMP Negeri tidak terlalu banyak. Akhirnya saya lulus SD dan memasuki Sekolah Menengah Pertama. Saya diterima di SMPN 7 Kota Bogor yang beralamat di Jl Paledang. Saat masuk Smp saya mendapatkan teman-teman yang baru yang belum pernah saya kenal.

3 tahun menjalani masa Smp akhirnya saya pun diterima di SMAN 10 Bogor yang letaknya berada di Perumahan Yasmin. Awalnya saya merasa keberatan sekolah di Sma tersebut karena jarak dari rumah saya dengan Sma itupun agak jauh. Namun seiring berjalannya waktu saya pun bisa terbiasa dan merasa nyaman bersekolah di Sma 10. Karena pada masa itu saya mulai memiliki banyak sahabat, pada masa ini pula saya sudah mulai merasakkan ketertarikkan dengan lawan jenis walaupun saat Smp juga saya mulai sedikit tertarik dengan lawan jenis tetapi yang konteksnya adalah menyukai atau mengidolakkan kaka kelas. Tetapi yang terjadi pada masa Sma ketertarikan yang dirasakan pada lawan jenis yang umurnya sebaya dengan saya. Pada masa Sma juga saya merasakan solidaritas yang tinggi dari teman-teman saya. Banyak orang yang mengatakan bahwa Sma itu adalah masa- masa yang paling indah mungkin kata-kata itu ada benarnya pula. Karena di masa ini adalah masa-masa saya masih tidak konsisten dengan diri saya sendiri kadang kala masih ikut-ikutan teman dalam hal apapun. Misal karena teman tidak mengerjakan tugas saya pun jadi ikut tidak mengerjakan tugas dan pada akhirnya dihukum bersama-sama. Atau tidak menaati peraturan sekolah yang memakai sabuk atau memakai sepatu hitam di hari tertentu, atau datang terlambat ke sekolah pelanggaran tersebut pasti akan mendapatkan sanksi namun ada pasti selalu ada kebersamaan dan cerita tersendiri.

Dan banyak hal lagi yang lainnya dilakukkan pada saat Sma tidak hanya yang mendapat hukuman, melakukan hal-hal positive bersama teman-teman pun ada seperti belajar bersama. Tiba saatnya perpisahan Sma saya pun dan teman-teman amat bersedih karena kami akan berpisah di Universitas yang berbeda-beda pula. Saya sendiri memilih PTN Negeri yaitu Unj dengan mengambil jurusan BK namun saya tidak diterima di Ptn tersebut. Karena saya tidak diterima di Ptn tersebut akhirnya orang tua dan saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Gunadarma mengambil jurusan Psikologi. Saat memasuki dunia perkuliahan sangat berbeda sekali dengan Sma, dari pakaian yang dikenakan saja sudah amat berbeda.

Sewaktu Sma saya menggunakan seragam sekolah ketika sudah memasuki dunia perkuliahan saya bisa memakai baju bebas. Mungkin pada saat Sma teman-teman yang kita kenal hanya sekitar kota atau tempat tinggal kita tetapi saat memasuki dunia perkuliahan kita bisa menemukan beragam teman-teman yang memiliki latar belakang tempat tinggal yang berada jauh dari kampus yang biasanya disebut dengan anak yang merantau. Saya pun bertempat tinggal di bogor, jadi setiap harinya saya pulang pergi Bogor-Depok untuk berangkat ke kampus. Karena jaraknya yang jauh saya pun setiap hari memakai alternative kendaraan umum yaitu kereta sebab jika dengan kereta api waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 45 menit dan itu tidak membuang-buang waktu pula. Pulang-pergi kuliah dengan menggunakan kereta pun merupakan pengalaman baru bagi saya. Dengan begitu saya pun bisa belajar untuk mandiri.

Ketika itu saya masuk dikelas 1PA06 pada saat itu saya sama sekali tidak mengenal siapapun karena saya tidak mengikuti ospek. Namun lama-kelamaan saya pun bisa membaur dengan teman-teman saya dikelas itu bahkan ketika memasuki semester 2 , saya dan teman-teman sekelas merasa sangat nyaman berada di kelas 1PA06. Bahkan saya dan teman-teman sebenarnya ingin kelas 1PA06 sampai lulus sarjana nanti tetapi di Universitas Gundarma saat kelas 2 (Semester 3) mahasiswa disetiap kelas dipisah-pisahkan dan akhirnya saya duduk dikelas 2PA01.

Dan waktu terus berlalu dengan melewati semester 4. Kemudian akhirnya saya sekarang duduk disemester 5. Masih berada didalam kelas yang sama seperti saat di semester 3 yaitu sekarang saat ini saya berada dikelas 3PA01. Kelas yang akan saya tempati sampai pada akhirnya lulus dari Universitas Gunadarma.

Selasa, 25 Juni 2013

Ringkasan Kesehatan Mental





KONSEP SEHAT
Sebagai makhluk hidup manusia memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lainnya, yakni lahir, tumbuh, berkembang, mengalami dinamika stabil-labil, sehat-sakit, normal-abnormal dan berakhir dengan kematian. Berbeda dengan hewan, manusia adalah makhluk yang bisa menjadi subjek dan objek sekaligus, oleh karena itu manusia selalu tertarik untuk membicarakan, menganalisa dan melakukan hal-hal yang diperlukan diri sendiri. Sebagian besar ilmu pengetahuan dan teknologi yang disusun dan dibangun oleh manusia adalah untuk kepentingan diri manusia itu sendiri, menyangkut kesehatannya, kenyamanannya, kesejahteraannya dan semua hal yang dipandang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. 

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Secara umum dan secara historis kajian kesehatan mental terbagi dalam dua periode yaitu Periode Pra-Ilmiah dan Periode Ilmiah (Langgulung, 1986: 23).

Pendekatan Kesehatan Mental
 Saparinah Sadli (dalam Suroso, 2001: 132) mengemukakan tiga orientasi Kesehatan Mental :
1.    Orientasi Klasik
2.    Orientasi Penyesuaian Diri
3.    Orientasi Pengembangan Potensi
Sumber :
Rochman, Kholil Lur.2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Fajar Media Press, Purwokerto: STAIN PRESS

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
Aliran Psikoanalisa
Orang yang pertama kali berusaha merumuskan psikologi manusia dengan memperhatikan struktur jiwa manusia adalah Sigmund Freud. Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang disebutnya id, ego, dan superego (Heru Basuki: 2008, 12-31; Sumadi Suryabrata: 2003, 34).
Aliran Behavioralisme
Behavioristik lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behavioristik ingin menganalisis hanya perilaku yang Nampak saja, yang dapat diukur,dilukiskan dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioristik lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia, kecuali insting adalah hasil belajar. Behavioristik tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; kaum behavioristik hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh factor-faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin” (homo mechanicus”). Behavioristik sangat banyak menentukan perkembangan psikologi, terutama dalam hal eksperimen-eksperimen. Kajian-kajian psikologi seringkali hanya mencerminkan pendekatan ini (Calvin Hall, 1993:45).

Aliran Humanistik
Psikologi humanistic dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisis dan behavioralisme. Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisis neo-Freudian seperti Adler dan Jung, serta banyak mengambil pemikiran fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subjektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.
Sumber :
Rochman, Kholil Lur.2010. Kesehatan Mental. Yogyakarta : Fajar Media Press,  
 Purwokerto: STAIN PRESS

Penyesuain Diri dan Pertumbuhan
Keterkaitan Penyesuaian diri dengan Kesehatan Mental
Keterikatan antara kesehatan mental dengan penyesuaian diri adalah bahwa :
·        Kesehatan mental merupakan kunci dari penyesuaian diri yang sehat (mental health is the key to wholesome adjustment)
·        Kesehatan mental merupakan bagian integral dari proses adjustment secara keseluruhan
·        Kualitas mental yang sehat merupakan fundamen yang penting bagi “good adjustment”.
Sumber :
 Yusuf, Syamsu,LN.M.Pd. 2004. Mental Hygiene (Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama). Bandung: Pustaka Bani Quraisy

PERTUMBUHAN PERSONAL
Pertumbuhan Pribadi manusia adalah suatu proses organis dan bukan suatu proses mekanis. Kita tidak lagi berbicara tentang membangun, melainkan tentang mengasuh, tidak lagi tentang melekatkan dasar-dasar melainkan tentang menumbuhkan akar-akar, tidak lagi menanamkan melainkan menstimulasi dan menjawab kebutuhan-kebutuhan secara baik.
Sumber :

TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
ALLPORT
Ciri-ciri Kepdibadian yang matang :
1.    Perluasan Perasaan Diri
2.    Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
3.    Keamanan Emosional
4.    Persepsi Realistis
5.    Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
6.    Pemahaman Diri
7.    Filsafat Hidup yang Mempersatukan

CARL ROGERS
Rogers memberikan 5 sifat orang yang berfungsi sepenuhnya :
1.    Keterbukaan Pada Pengalaman
2.    Kehidupan Eksistensial
3.    Kepercayaan Terhadap Organisme
4.    Perasaan Bebas
5.    Kreativitas
Sumber  :
Schultz,Duane.1991.Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian         Sehat.Yogyakarta:Kanisius

ABRAHAM MASLOW
Maslow mengembangkan gagasan ini lebih lanjut dan dikenal dengan sebutan hierarki kebutuhan. Dia menempatkan lima lapisan kebutuhan yang lebih luas, yaitu :
1.    Kebutuhan Fisiologis
2.    Kebutuhan Rasa Aman
3.    Kebutuhan Cinta dan Rindu
4.    Kebutuhan Penghargaan
5.    Kebutuhan akan Aktualis akatulisasi Diri
Sumber  :
Feist Jess, Feist Gregory J.2010.Teori Kepribadian.Jakarta : Salemba Humanika

ERRICH FROMM
Fromm menyebut kepribadian yang sehat :
Orientasi Produktif yakni suatu konsep yang serupa dengan kerpdibadian yang matang dari Allport dan orang yang mengaktualisasikan dirin dari Maslow. Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat menjelaskan apa yang dimaksud Fromm dengan orientasi produktif yaitu :
·        Cinta yang produktif
·        Pikiran yang produktif
·        Kebahagiaan
·        Suara hati : Suara hati otoriter dan Suara hati humanis
Sumber  : 
Schultz,Duane.1991.Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian         Sehat.Yogyakarta:Kanisius

Pengertian Stress

Arti Penting Stres
Salah satu sumbangan pertama dalam penelitian tentang stress adalah deskripsi Cannon tentang responfight-or-flight pada tahun 1932. Cannon berpendapat bahwa ketika organism merasakan adanya suatu ancaman, maka secara cepat tubuh akan terangsang dan termotivasi melalui sistem syaraf simpatetik dan endokrin. Respon biologis ini mendorong organism untuk menyerang ancaman tadi atau melarikan diri (Garmezy, 1983 ; Taylor, 1991). 

Factor –factor Individual dan Social yang menjadi Penyebab Stress
·        Faktor sosial.
·        Faktor Individual

Tipe-tipe Stress
Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis, yaitu:
Tekanan, Frustasi, Konflik, Kecemasan
Pendekatan Problem Solving Terhadap Stress
Strategi Koping yang spontan mengatasi Stress
Ada beberapa teknik terapi yang dicobakan untuk mengatasi stres. Biofeedbackn adalah suatu teknik untuk mengetahui bagian tubuh mana yang terkena stres dan kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang cukup rumit, gunanya sebagai feedback atau umpan balik terhadap bagian tubuh tertentu. Biofeedback kurang efektif untuk digunakan secara praktis.
Sumber     :

Coping Stress
Pengertian dan Jenis-jenis Coping Stress
Pengertian Coping Stress
Lazarus & Folkman (1986) mendefenisikan coping sebagai segala usaha untuk mengurangi  stres, yang merupakan proses pengaturan atau tuntutan (eksternal maupun internal) yang dinilai sebagai beban yang melampaui kemampuan seseorang.

Jenis- jenis Coping Stress
 Lazarus & Folkman (1986) mengidentifikasikan berbagai jenis strategi coping, baik secara problem-focused maupun emotion-focused, antara lain:
1.  Planful problem solving
2.  Confrontive coping
3.  Seeking social support
4.  Accepting responsibility
5.  Distancing 
6.  Escape-avoidance
7.  Self-control
8.  Positive reappraisal
Sumber :
 
Jenis- jenis Coping yang Konstruktif atau Positif (Sehat)
Harber & Runyon (1984) menyebutkan jenis-jenis koping yang dianggap konstruktif, yaitu:
1.    Penalaran (Reasoning)
2.    Objektifitas
3.    Konsentrasi
4.    Humor 
5.    Supresi
6.    Toleransi terhadap Kedwiartian atau Ambiguitas
7.    Empati  

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan

a.  Menjelaskan Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

Pengertian Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut  dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya. Dalam kehidupan sehari-hari, Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu.

b.  Pertumbuhan Personal

1.    Penekanan Pertumbuhan Diri
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dariproses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikansebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secaraberkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatifyang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
2.    Variasi dalam Pertumbuhan Diri
Dalam variasi pertumbuhan memang sangat beragam. Tidak semua individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri berdasarkan tingkatan usia, pertumbuhan fisik, maupun sosial nya. Mengapa? karena terkadang terdapat rintangan-rintangan yang menyebabkan ketidakberhasilan individu dalam melakukan penyesuaian, baik rintangan itu dari dalam diri atau dari luar diri.
3.    Kondisi-kondisi untuk Bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh.
Sumber :
Semium, yustinus (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta : Kansius

HUBUNGAN INTERPERSONAL

Hubungan Interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.
a . Model- Model Hubungan Interpersonal
1.       Model pertukaran sosial (social exchange model).
2.       Model peranan (role model).
3.       Model permainan (games people play model).
4.       Model Interaksional (interacsional model).
b . Cara Memulai Hubungan Interpersonal
 Pembentukan kesan dan Ketertarikan Interpersonal dalam memulai hubungan.
Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :

1.       Pembentukan.
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
2.       Peneguhan Hubungan.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan.
3.  Pemutusan Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among
Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan,
yaitu :
a.    Kompetisi
b.   Dominasi
c.    Kegagalan
d.   Provokasi

c. Intimasi dan Hubungan Pribadi
Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada
Suatu hubungan yang bersifat informal, hubungan kehangatan
antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan yang lama.
Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain,
saling berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi
semacam ini membutuhkan komunikasi yang penuh  makna untuk
mengetahui dengan pasti apa yang dibagi bersama dan
memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat terwujud
melalui saling berbagi dan membuka diri, salingmenerima dan
menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang
lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).

d. Intimasi dan Pertumbuhan
Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Sumber :
shafashan15.blogspot.com/2012/04/hubungan-interpersonal.html
Aronson ,Elliot .(2005).social psychology
Hall, S Calvin., Lindzey , Gardner., (2009). Teori - Teori Psikodinamika, Yogyakarta:Kanisius



Cinta dan Perkawinan

Deskripsi Cinta dan Perkawinan
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.
Sumber :
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Sumber :

Bagaimana memilih Pasangan ?
Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka dari itu harus benar-benar diperhitungkan ketika memilih pasangan yang baik. Bila ingin pintar, seseorang harus rajin belajar, bila ingin kaya seseorang harus berhemat, begitu pula tentang pasangan hidup. Bila menginginkan pasangan hidup yang baik maka kita juga harus baik. Tak ada sesuatu di dunia ini yang untuk mendapatkannya tidak memerlukan pengorbanan. Segala sesuatu ada harga-nya termasuk bila ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik. Ya, dimulai dari diri sendiri. Bila kita bercita-cita untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik, maka kita sendiri harus baik. Percayalah, Tuhan telah memasangkan manusia sesuai dengan karakter dan derajat mereka masing-masing. Manusia yang baik hanyalah untuk manusia yang baik pula, begitu pula sebaliknya.


Seluk Beluk Hubungan dalam Perkawinan
Seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach, dia mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan, yaitu Tahap pertama : Romantic Love ,Tahap kedua : Dissapointment or Distress ,Tahap ketiga : Knowledge and Awareness. Tahap keempat : Transformation, Tahap kelima Real Love

Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.

Perceraian dan Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan. 

Single Life
Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup sendiri. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Sumber :
Sumber :